Sejarah Uang di Indonesia

        Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850 Masehi yaitu pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Mata uang pada saat itu bernama “Ma” dan mempunyai ukuran sangat kecil yaitu 5-10 mm dengan bentuk seperti kotak yang berbahan dasar emas dan perak. Mata uang Ma mempunyai beberapa nominal seperti Masa(Ma),  Atak, dan Kupang. Mata uang ini berlaku di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur dan berlaku dari abad 9-12

Di era Kerajaan Jenggala dan Majapahit, mata uang yang berlaku adalah mata uang Gobog yang berlaku pada abad 14-16 di wilayah Jawa Timur. Mata uang Gobog terbagi menjadi dua jenis, yaitu berbahan emas dengan bentuk lingkaran dan berbahan perak dengan bentuk cembung.

Ketika masa Kerajaan Islam, Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di ujung Pulau Sumatera ini me`mpunyai mata uang bernama “Dirham” yang berbahan dasar emas dikeluarkan oleh Sultan Malik Al Zahir tahun 1297-1326. Mata uang Dirham digunakan pada abad 12-15.

Pada tahun 1595 kapal-kapal Belanda menginjak daratan Indonesia yang dikepalai oleh dua bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman. Mereka membawa koin-koin perak yang dinamakan “Real Batu” dan “Real Bundar”. Kemudian mereka mencetak mata uang sendiri yang digunakan sampai tahun 1601. Sampai pada akhirnya pada bulan Maret 1602 didirikan sebuah perusahaan dagang VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). VOC menerbitkan uang kertas Rjksdaalder di Ternate. Pada tahun 1748, VOC memperkenalkan uang kertas dalam bentuk surat berharga.

Berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia, digantikan oleh kedudukan Jepang di Indonesia. Jepang banyak mencetak mata uang kertas dan juga mencetak mata uang berbentuk koin yang terbuat dari aluminum dan timah. Semuanya dicetak dengan tahun Jepang 2603 dan 2604(1943 dan 1944 Masehi).

Setelah pasukan sekutu mendarat di Tanjung Priok tanggal 29 September 1945, mereka mengedarkan uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan melarang penggunaan uang Jepang. Uang NICA terus dipakai hingga tanggal 2 Oktober 1946.

Pada akhirnya tanggal 26 Oktober 1946 Indonesia memberlakukan mata uang ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dan ditandatangani oleh A.A Maramis. Pada hari itu pula Indonesia resmi mempunyai mata uang pertama. ORI dicetak pada Percetakan Canisius.

ORI diterbitkan sebanyak tiga kali. Yang dinamakan ORI I, ORI II, dan ORI III. ORI I diterbitkan pada tahun 1946 bertanggal Djakarta 17 Oktober 1946 dan ditandatangani oleh A.A Maramis, ORI II diterbitkan pada tahun 1947 bertanggal Djokjakarta 1 Djanuari 1947 dan ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara, dan ORI III diterbitkan pada tahun 1947 bertanggal Djokjakarta 26 Djuli 1947 dan ditandatangani oleh A.A Maramis.

Selain menerbitkan ORI, saat itu pemerintah juga menerbitkan mata uang ORIDA yaitu mata uang local atau ORI Daerah yang berlaku sementara di daerah masing-masing sejak 1947. ORIDA terbit di Sumatra, Banten, Tapanuli, dan Banda Aceh.

Pada zaman Presiden Soeharto, uang pertama yang dikeluarkan adalah uang kertas seri “Sudirman” yang ditandatangani oleh Gubernur BI Radius Prawiro dan Direktur BI Soeksmono B Martokoesoemo dan mulai diedarkan pada tanggal 8 Januari 1968Pada tanggal 1 Mei 1950, berdasarkan hasil KMB Desember 1949 pemerintah RIS manarik ORI dan ORIDA dan menggantinya dengan mata uang RIS yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1950. Pada tanggal 13 Desember 1965, pemerintah/cabinet Dwikora I menarik peredaran semua mata uang pada waktu itu dan menggantinya dengan mata uang baru yang nilai tukarnya 1000:1. Artinya, setiap 1000 rupiah lama dapat ditukar menjadi 1 rupiah Baru.